
Alfiyyah Itu Kitab Aneh, Kok Bisa?
Afina Sholikatu Naim
2/11/20262 min read
Kitab Alfiyah Ibn Malik merupakan kitab yang berisi rangkuman kaidah nahwu shorof yang populer diajarkan di pondok pesantren, terutama pesantren salaf. Sesuai namanya, kitab ini dikarang oleh Imam Ibnu Malik. Namun, dibalik kepopuleran kitab ini tersimpan dua keanehan di dalamnya. Pertama, Alfiyah berasal dari kata alfun artinya seribu, namun dalam kitab ini terdapat seribu lebih dua bait nadhom. Secara logika, jika lebih dua bait, seharusnya nama kitab ini adalah Alfiyah wa Itsnani (Seribu Dua). Ternyata ada kisah dari dua bait nadhom tersebut. Saat Imam Ibnu Malik menyusun kitab Alfiyah dengan ambisi besar untuk melampaui karya sebelumnya yaitu Imam Ibnu Mu’thi, yang akhirnya menjadikan beliau memiliki rasa ujub atau bangga diri yang seketika membuat inspirasinya membeku. Kebuntuan itu terjawab melalui sebuah mimpi di mana beliau bertemu dengan Imam Ibnu Mu’thi yang memberikan teguran halus namun mendalam, seolah menyadarkan Ibnu Malik bahwa keunggulan karyanya saat ini tidak akan pernah ada tanpa fondasi yang diletakkan oleh para pendahulu. Hal ini yang menjadikan Imam Ibnu Malik segera bertaubat dan menghapus segala bentuk kesombongan dalam hatinya, yang semula bait nadhom tersebut berisi:
(Kitabku ini) mengungguli Alfiyah karya Ibnu Mu'thi.
Kemudian disempurnakan menjadi:
"(Kitabku ini) mengungguli Alfiyah karya Ibnu Mu’thi, namun beliau lebih utama karena telah
mendahului." "Beliau berhak mendapatkan pujian indah dariku, dan semoga Allah
menetapkan pemberian yang sempurna, untukku dan untuk beliau, di derajat akhirat yang
tinggi."
Beliau akhirnya mengabadikan pengakuan akan keutamaan Imam Ibnu Mu’thi dalam kitabnya, mengajarkan kita sebuah hikmah abadi bahwa keberkahan ilmu hanya akan mengalir pada jiwa yang menghargai jasa guru dan tetap rendah hati di puncak pencapaiannya. Keanehan yang kedua adalah berkaitan dengan gaya penulisan pengarangnya, Syeikh Muhammad bin Abdullah bin Malik (Ibnu Malik). Umumnya, para penulis (mushonif) menggunakan Fi'il Mudhari' (kata kerja bentuk sekarang/akan datang) saat menyatakan sedang mengarang kitab. Namun, Ibnu Malik justru menggunakan Fi'il Madhi (kata kerja bentuk lampau) dalam nadhomnya, seolah-olah karya tersebut sudah selesai bahkan sebelum beliau menuntaskannya.
Seperti pada nadhom pertama. Pada nadhom tersebut diawali dengan fi’il madli filosofis yang menggambarkan optimisme melalui bentuk lampau sebagai bentuk doa dan rasa optimis bahwa kitab ini pasti akan selesai atas izin Allah. Sesuatu yang sudah pasti terjadi di masa depan terkadang diungkapkan dengan bentuk lampau untuk menekankan kepastiannya. Selain itu sebagai isyarat bahwa seluruh isi kitab ini sudah selesai di dalam pikiran Imam Ibnu Malik sebelum dituangkan ke dalam tulisan. Penggunaan fi'il madhi memberikan kesan tahqiq (ketetapan) yang menunjukkan kemantapan hati sang pengarang dalam menyusun kaidah-kaidah ilmu Nahwu tersebut.

ppsirojuttolibin@gmail.com
© 2025. Media PPST
Development by Syihabuddin, Moh. Badrul Anwar
Jalan M.T. Haryono No.Gang 2, Srigading, Plosokandang, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur
PONDOK PESANTREN SIROJUT THOLIBIN
sirojuttholibin.id
